Menkaji Konsep Filsafat dan Jenis Berfikir dari "buku Teori dan Filsafat" dan "Filsafat Pendidikan"

 Menkaji Konsep Filsafat dan Jenis Berfikir dari "buku Teori dan Filsafat" dan "Filsafat Pendidikan"

Menkaji Konsep Filsafat dan Jenis Berfikir dari "buku Teori dan Filsafat" dan "Filsafat Pendidikan"

Buku Teori dan Filsafat

Menurut M.Anwar, filsafat dalam arti pertama adalah jalan yang ditempuh untuk memecahkan masalah. Sedangkan, pada pengertian kedua, merupakan kesimpulan yang diperoleh dari hasil pemecahan atau pembahasan masalah, kemudian diperjelas Kembali jika filsafat dari segi bahasa, pada hakikatnya adalah menggunakan rasio (berpikir). tetapi, tidak semua proses berpikir disebut filsafat. (Anwar, 2017:1-2). 

Mengutip pendapat dari Sondang P. Siagian tentang pengertian filsafat, filsafat berarti cinta kepada kebijaksanaan. Untuk menjadi bijaksana, berarti harus berusaha mengetahui tentang sesuatu dengan sedalam-dalamnya, baik mengenai hakikat adanya sesuatu, fungsi, ciri-ciri, kegunaan, masalah-masalah, dan sekaligus pemecahannya. (Anwar, 2017:4).

Sedangkan menurut pendapat dari Imam Barnadib, dijelaskan menjelaskan, filsafat berasal dari bahasa Yunani yang berupa rangkaian dua pengertian, yaitu philare berarti cinta dan sopia berarti kebajikan. Yang dimaksudkan kebijakan di sini adalah kebijakan manusia. Dengan dasar pengetahuan ilosoisnya itu, diharapkan orang dapat memberikan pendapat dan keputusan secara bijaksana. (Anwar, 2017:4).

Maka dapat penulis simpulkan berdasar teori pengertian filsafat dari sumber refrensi ini adalah pencarian kebenaran melalui prinsip-prinsip pengetauhan dan kebijaksanaan.

Lahirnya konsep dan rumusan filsafat pendidikan yang akan dibahas dengan berdasarkan atas beberapa pokok-pokok pikiran yaitu:

1. Sebagai ilmu pengetahuan normatif, ilmu pendidikan merumuskan kaidah, norma-norma, atau ukuran tingkah laku yang dilaksanakan oleh manusia. Atau, ilmu pendidikan bertugas merumuskan peraturan peraturan tentang tingkah laku manusia dalam kehidupan dan penghidupannya.

2. Sebagai ilmu pengetahuan praktis, tugas pendidikan dan/atau pendidik (guru) ialah menanamkan sistem sistem norma tingkah laku manusia, yang didasarkan kepada dasar-dasar filsafat yang dijunjung oleh lembaga pendidikan dan pendidik dalam suatu masyarakat.

3. Sesuai dengan kenyataan di atas, ilmu pendidikan erat hubungannya dengan ilmu filsafat dan ilmu pengetahuan normatif lainnya. Dalam sejarah perkembangan, merupakan bagian dari ilmu tersebut dan kemudian memisahkan diri sebagai ilmu pengetahuan yang berdiri sendiri, di samping menyebabkan lahirnya cabang ilmu pengetahuan baru, yaitu filsafat pendidikan (tahun 1908).

4. Ilmu pengetahuan yang dimasukkan ke dalam ilmu pengetahuan normatif meliputi agama, filsafat dengan segala cabangnya, yaitu metaisika, etika, estetika, dan logika, way of life social masyarakat, kaidah fundamental negara maupun tradisi kepercayaan bangsa. 

5. Agama, filsafat dengan segala cabangnya, serta istilah yang ekuivalen lainnya, menentukan dasar-dasar dan tujuan hidup yang akan menentukan dasar dan tujuan pendidikan manusia, selanjutnya akan menentukan tingkah laku manusia dalam kehidupan dan penghidupannya.

 6. Dalam perumusan dan tujuan-tujuan ultimate dan proksimit pendidikan akan ditetapkan hakikat dan sifat hakikat manusia, serta segi-segi pendidikan yang akan dibina dan dikembangkan melalui proses pendidikan, sebagaimana tercantum dalam sistem pendidikan atau science of education. 

7. Sistem pendidikan atau science of education bertugas merumuskan alat-alat, prasarana, pelaksanaan, teknik-teknik, dan/atau pola-pola proses pendidikan dan pengajaran, agar dicapai dan dibina tujuantujuan pendidikan. Hal ini meliputi problematika kepemimpinan dan metode pendidikan, politik pendidikan, sampai kepada seni mendidik (the art of education). 

8. Isi moral pendidikan atau tujuan intermediate berisi perumusan, norma-norma, atau nilai spiritual etis yang akan dijadikan sistem nilai pendidikan dan/atau merupakan konsepsi dasar nilai moral pendidikan, yang berlaku di segala jenis dan tingkat pendidikan. 

9. Wajar jika setiap manusia memiliki filsafat hidup atau kaidah berpikir dan pikiran tentang kehidupan dan penghidupannya, maka suatu keharusan bagi setiap pendidik dan guru untuk memiliki dan membina filsafat pendidikan yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan tugas pendidikan dan pengajarannya. Baik di dalam maupun di luar lembaga pendidikan formal sekolah, yaitu di dalam masyarakat. 

10. Filsafat pendidikan sebagai suatu lapangan studi bertugas merumuskan secara normatif, dasar-dasar dan tujuan pendidikan, hakikat dan sifat hakikat manusia, hakikat dan segi-segi pendidikan, isi moral pendidikan, sistem pendidikan yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan, dan metodologi pengajarannya; pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat. (Anwar, 2017:28-30)

Pemikiran manusia dapat dipelajari, maka ada empat golongan pemikiran yaitu: 

1.    Pemikiran Pseudo-Ilmiah

Pemikiran yang bertumpu pada aspek kepercayaan kebudayaan dan mitos. 

2.    Pemikiran Awam

merupakan pemikiran orang-orang dewasa yang dapat menggunakan akal sehat tanpa penelitian. 

3.    Pemikiran Ilmiah

Pemikiran yang melibatkan metode-metode, tata pikir dalam paradigma ilmu pengetahuan tertentu dilengkapi dengan penggunaan hipotesis untuk menguji kebenaran konsep teori atau pemikiran dalam dunia empiris (yang tidak pernah selesai) proses keilmuan. 

4.    Pemikiran Filosois

adalah kegiatan berpikir relektif meliputi kegiatan analisis, pemahaman, deskripsi, penilaian, penafsiran, dan perekaan yang bertujuan untuk memperoleh kejelasan, kecerahan, keterangan pembenaran, pengertian, dan penyatupaduan tentang objek. (Anwar, 2017:2-3)

Buku Filsafat Pendidikan

Dikutip dari (Poedjawijatna, 2005), Anselmus menjelaskan definisi dari filsafat  yang secara etimologis, kata filsafat berasal dari bahasa Yunani, filosofia. Kata filosofia sendiri terdiri atas dua kata, filo dan sofia. Filo artinya “cinta” dan sofia artinya “kebijaksanaan” atau “kebenaran”.

Anselmus menegaskan dari aspek etimologis tersebut bahwasannya filsafat memberikan pesan utama bahwa orang yang berfilsafat adalah orang yang serius berupayamenemukan kebenaran atau kebijaksanaan hakiki. (Toenlioe, 2016:33)

Anselmus dalam Teori dan Filsafat pendidikan menjelaskan bahwa pendidikan adalah upaya sadar serta terencana oleh seorang pedidik untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya baik secara spiritual, keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta sebuah keterampilan yang diperlukan oleh bangsa dan negaranya. (Toenlioe, 2016:9) 

Toenlioe juga mengutip melalui Undang - undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pemerintah berusaha menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional yang dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta akhlak mulia dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. (Toenlioe, 2016:87)

Ada 4 (empat) jenis berpikir yang dilakukan manusia, yaitu: 

1.    Berpikir awam

Berpikir yang dilakukan ole kebanyakan, tanpa menggunakan kerangka teori atau ilmu tertentu.

2.    Berpikir ilmiah

Berpikir secara keilmuan. Berpikir yang menggunakan hasil penelitian ilmiah sebagai acuan.


Komentar

Postingan Populer